Beradab Sebelum Berilmu


Adab atau etika merupakan inti dari ajaran Islam. Sebagaimana Rasulullah SAW pun diutus untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. Allah SWT memperingatkan orang-orang munafik bahwa sebenarnya mereka dapat memperoleh teladan yang baik dari Nabi SAW.
 
Mengkutip dari tausiyah nasehat yang selalu disampaikan AlHabib Quraisy Baharun akan pentingnya Akhlak, beliau mengatakan yang membedakan kita dengan hewan adalah akhlak, Maka perhatikanlah akhlak kita kepada Allah dan Rasulullah. Dan ketahuilah bahwa orang beriman penuh kasih sayang dan tidak takabur. Diamnya tafakur, bicaranya baik dan jujur. Ketika mendapat cobaan bersabar ketika mendapat anugerah bersyukur.

Sosok teladan bagi kita semua yaitu Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang kuat imannya, berani, sabar, dan tabah menghadapi segala macam cobaan, percaya sepenuhnya kepada segala ketentuan Allah, dan mempunyai akhlak yang mulia. Jika mereka bercita-cita ingin menjadi manusia yang baik, berbahagia hidup di dunia dan di akhirat, tentulah mereka akan mencontoh dan mengikutinya. Akan tetapi, perbuatan dan tingkah laku mereka menunjukkan bahwa mereka tidak mengharapkan keridaan Allah dan segala macam bentuk kebahagiaan hakiki itu. Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Artinya: Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah SWT. (QS Al-Ahzab:21)

Berbicara mengenai adab dan ilmu, sebagian orang mungkin sudah sangat familiar dengan pepatah atau kata mutiara arab yang mengatakan, 'Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar diwaktu kecil bagaikan mengukir di atas air'. Begitulah Pepatah Arab mengatakan, berikut keterangan yang berbahasa arab:
التعلم في الصغر كالنقص على الحجر
“Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.”
Mengapa belajar di waktu kecil diumpamakan seperti mengukir di atas batu? Coba kita perhatikan sejenak, ketika seseorang mengukir di atas batu, apa yang terjadi dengan ukiran tersebut? Apakah ia akan hilang begitu saja saat diterpa angin? Jawabannya 'Tidak'. Bahkan, ketika dihantam badaipun, tulisan itu tidak akan hilang. Begitu pula dengan belajar di waktu kecil. Apa yang telah dipelajari dan dihafal pada waktu kita masih kecil sangat sulit untuk dilupakan. Bahkan, akan tetap melekat hingga masa tua.

Oleh karena itu, selagi kita masih muda dan masih diberikan kesehatan berupa nikmat yang luar biasa hendaknya kita bersyukur. Dan marilah kita ukir sebuah hal-hal kebaikan dengan sebaik-baiknya. Kemudian jangan lewatkan masa muda dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, Belajarlah dan tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya, bertawadhulah ketika punya banyak ilmu, karena adab lebih mulia daripada ilmu. Hafalkan dan pahami ilmu apa yang perlu untuk dihafal dan dipahami, jaga dengan baik melalui ingatan kita dan rawat sebaik mungkin. Maka dengan begitu, akan tumbuh hal-hal baik yang selalu menyertai kita. 

Lanjut, berbicara tentang adab jauh lebih mulia dari pada ilmu dalam kitab Ta'lim Muta'allim diterangkan bahwasanya:
فلما رأيت كثيرا من طلاب العلم فى زماننا يجدون إلى العلم ولايصلون ومن منافعه وثمراته ـ وهى العمل به والنشر ـ يحرمون لما أنهم أخطأوا طريقه وتركوا شرائطه، وكل من أخطأ الطريق ضل، ولاينال المقصود قل أو جل، فأردت وأحببت أن أبين لهم طريق التعلم على ما رأيت فى الكتب وسمعت من أساتيذى أولى العلم والحكم 
"Tatkala aku melihat banyak dari para penuntut ilmu pada masa kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, namun tidak dapat mencapai hasilnya. Di antara manfaat dan buah ilmu adalah mengamalkan ilmu dan menyebarkannya. Mereka terhalang (dari ilmu) sebab kesalahan dalam metode mencari ilmu, dan mereka meninggalkan syarat-syaratnya. Sedangkan setiap orang yang salah jalan maka akan tersesat, dan tidak mendapat sesuatu yang ia inginkan sedikit ataupun banyak. Maka aku ingin menjelaskan kepada mereka tata cara belajar berdasarkan yang telah aku lihat dan dengar dari guru-guruku yang memiliki ilmu dan hikmah". (Imam al-Zarnûji, Ta’lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum, halaman 57)

Karya termasyhur al-Zarnuji adalah Ta’lim al-Muta’allim Tariq al-Ta’allum, sebuah kitab yang bisa dinikmati dan dijadikan rujukan hingga sekarang. Seorang orientalis M Plessner mengatakan bahwa kitab Ta’lim al-Muta’allim adalah salah satu karya al-Zarnuji yang masih tersisa. Plessner menduga kuat bahwa al-Zarnuji memiliki karya lain, tetapi banyak hilang, karena serangan tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan terhadap kota Baghdad pada tahun 1258 M.

Lebih lanjut lagi, berbicara mengenai adab lebih mulia daripada ilmu. Maka kita mengacu pada arti sebenarnya adab berarti kesopanan, keramahan budi pekerti menempatkan sesuai dengan tempatnya, jamuan dan lain-lain. Maka, adab dengan artian sebagai jamuan. Dalam hadits menyebutkan, sesungguhnya kitab suci Al-Qur'an ini adalah jamuan (Ma’dabah) Allah SWT di bumi, belajarlah dengan sepenuhnya dari jamuan-Nya. (HR Ibn Mas’ud). 

Sayyid Muhammad al-Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin al-Atthas adalah seorang cendekiawan dan filosuf muslim yang  tinggal di Malaysia, menambahkan bahwa adab itu lebih mulia dan terhormat dari sebagaimana orang menjamu tamu. Tentu maksud dari keterangan tersebut adalah adab merupakan pelaksanaan nilai-nilai yang benar dengan perbuatan yang tepat. Orang yang memegang nilai-nilai yang baik (etika), maka perbuatannya akan baik, dan bisa disebut beradab. (dikutip dari buku Azas-Azas Pendidikan Islam karya Abdul Fattah Jalal).

Pentingnya adab dari ilmu juga diterangkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Nabi bersabda:
إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرَ الْغَالِي فِيْهِ وَالْجَافِي عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ
"Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah menghormati seorang muslim yang beruban (sudah tua), pembawa Al-Qur'an yang tidak berlebih-lebihan padanya (dengan melampaui batas) dan tidak menjauh (dari mengamalkan) Al-Qur'an tersebut, serta memuliakan penguasa yang adil." (HR Abu Dawud).

Hadits di atas menerangkan bahwa begitu pentinya adab jadi semoga kita semua walaupun ilmu kita mempunyai ilmu yang mumpuni namun tetap menomorsatukan adab, jangan kemudian menganggap orang yang lebih rendah ilmunya dari kita, itu orang yang bodoh dan jangan pula selalu menonjolkan sifat sombong di hadapan orang lain. Sebaiknya merendahkan dan merasa dirinya biasa-biasa saja. 
(Wallahu A’lam Bisshawwab)

Semoga ALLAH senantiasa membimbing kita dengan hidayah dan taufiq-NYA, Aamiin.

Posting Komentar

0 Komentar